Latest Entries »

Algoritma Booth VHDL

Contoh Soal 1 :

rancangan Pengali dengan nilai cos 2Ѳ, dengan :

Ѳ = (2 ∏)/16
Ѳ = (2 . 3,16)/16 = 0.3925

Maka, dalam VHDL dengan Xilink 10.0 sbb.

———————————————————————————-
– Company:
– Engineer:

– Create Date: 13:34:19 12/26/2011
– Design Name:
– Module Name: B3_2 – Behavioral
– Project Name:
– Target Devices:
– Tool versions:
– Description:

– Dependencies:

– Revision:
– Revision 0.01 – File Created
– Additional Comments:

———————————————————————————-
library IEEE;
use IEEE.STD_LOGIC_1164.ALL;
use IEEE.STD_LOGIC_ARITH.ALL;
use IEEE.STD_LOGIC_UNSIGNED.ALL;

—- Uncomment the following library declaration if instantiating
—- any Xilinx primitives in this code.
–library UNISIM;
–use UNISIM.VComponents.all;

entity B3_2 is

port ( A : std_logic_vector (8 downto 0);
Y : out std_logic_vector (7 downto 0));

end B3_2;

architecture Behavioral of B3_2 is

signal CA : std_logic_vector (13 downto 0);
signal CB : std_logic_vector (10 downto 0);
signal CC : std_logic_vector (8 downto 0);
signal CD : std_logic_vector (6 downto 0);
signal B : std_logic_vector (8 downto 0);
signal FA : std_logic_vector (8 downto 0);
signal FB : std_logic_vector (7 downto 0);
signal CFB : std_logic_vector (6 downto 0);
signal CFA : std_logic_vector (8 downto 0);

begin
B (8 downto 0) <= not (A);

FA( 4 DOWNTO 0) <= (A(8 DOWNTO 4) XOR A(6 DOWNTO 2) XOR B(4 DOWNTO 0));
CFA(4 DOWNTO 0) <= (A(8 DOWNTO 4) AND A(6 DOWNTO 2)) OR (A(8 DOWNTO 4) AND B(4 DOWNTO 0)) OR (A(6 DOWNTO 2) AND B(4 DOWNTO 0));
FA(8 DOWNTO 5) <= (B(8 DOWNTO 5) XOR B(6 DOWNTO 3) XOR A(4 DOWNTO 1));
CFA(8 DOWNTO 5) <= (B(8 DOWNTO 5) AND B(6 DOWNTO 3)) OR (B(8 DOWNTO 5) AND A(4 DOWNTO 1)) OR (B(6 DOWNTO 3) AND A(4 DOWNTO 1));

FB(7 DOWNTO 0) <= (CA(13 DOWNTO 6) XOR CB(10 DOWNTO 3) XOR CC(8 DOWNTO 1));
CFB(6 DOWNTO 0) <= (CA(12 DOWNTO 6) AND CB(9 DOWNTO 3)) OR (CA(12 DOWNTO 6) AND CC(7 DOWNTO 1)) OR (CB(9 DOWNTO 3) AND CC(7 DOWNTO 1));

CA(0) <= '0';
CA(1) <= (A(2) AND A(0)) OR (A(2) AND CA(0)) OR (A(0) AND CA(0));
CA(2) <= (A(3) AND A(1)) OR (A(3) AND CA(1)) OR (A(1) AND CA(1));
CA(3) <= CFA(0);
CB(0) <= (FA(0) AND '1') OR (FA(0) AND CA(2)) OR ('1' AND CA(2));
CA(4) <= CFA(1);
CB(1) <= (FA(1) AND CA(3)) OR (FA(1) AND CB(0)) OR (CA(3) AND CB(0));
CA(5) <= CFA(2);
CB(2) <= (B(0) AND '1') OR (B(0) AND CA(4)) OR ('1' AND CA(4));
CC(0) <= (FA(2) AND (B(0) XOR '1' XOR CA(4))) OR (FA(2) AND CB(1)) OR ((B(0) XOR '1' XOR CA(4)) AND CB(1));
CA(7 DOWNTO 6) <= CFA(4 DOWNTO 3);
CB(3) <= (B(1) AND CA(5)) OR (B(1) AND CB(2)) OR (CA(5) AND CB(2));
CC(1) <= (FA(3) AND (B(1) XOR CA(5) XOR CB(2))) OR (FA(3) AND CC(0)) OR ((B(1) XOR CA(5) XOR CB(2)) AND CC(0));
CB(10 DOWNTO 4) <= CFB(6 DOWNTO 0);
CC(2) <= (B(2) AND A(0));
CD(0) <= (FA(4) AND FB(0)) OR (FA(4) AND (B(2) XOR A(0))) OR (FB(0) AND (B(2) XOR A(0)));
CA(11 DOWNTO 8) <= CFA(8 DOWNTO 5);
CC(3) <= (A(8) AND A(7)) OR (A(8) AND CD(0)) OR (A(7) AND CD(0));
CD(1) <= (FA(5) AND FB(1)) OR (FA(5) AND (A(8) XOR A(7) XOR CD(0))) OR (FB(1) AND (A(8) XOR A(7) XOR CD(0)));
CC(4) <= (A(8) AND A(8)) OR (A(8) AND CD(1)) OR (A(8) AND CD(1));
CD(2) <= (FA(6) AND FB(2)) OR (FA(6) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(1))) OR (FB(2) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(1)));
CC(5) <= (A(8) AND A(8)) OR (A(8) AND CD(2)) OR (A(8) AND CD(2));
CD(3) <= (FA(7) AND FB(3)) OR (FA(7) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(2))) OR (FB(3) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(2)));
CC(6) <= (A(8) AND A(8)) OR (A(8) AND CD(3)) OR (A(8) AND CD(3));
CD(4) <= (FA(8) AND FB(4)) OR (FA(8) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(3))) OR (FB(4) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(3)));

CA(12)<= (B(8) AND B(7)) OR (B(8) AND A(5)) OR (B(7) AND A(5));
CC(7) <= (A(8) AND A(8)) OR (A(8) AND CD(4)) OR (A(8) AND CD(4));
CD(5) <= ((B(8) XOR B(7) XOR A(5)) AND FB(5)) OR ((B(8) XOR B(7) XOR A(5)) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(4))) OR (FB(5) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(4)));

CA(13)<= (B(8) AND B(8)) OR (B(8) AND A(6)) OR (B(8) AND A(6));
CC(8) <= (A(8) AND A(8)) OR (A(8) AND CD(5)) OR (A(8) AND CD(5));
CD(6) <= ((B(8) XOR B(8) XOR A(6)) AND FB(6)) OR ((B(8) XOR B(8) XOR A(6)) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(5))) OR (FB(6) AND (A(8) XOR A(8) XOR CD(5)));

Y(0) <= (FA(4) XOR FB(0) XOR (B(2) XOR A(0)));
Y(1) <= (FA(5) XOR FB(1) XOR (A(8) XOR A(7) XOR CD(0)));
Y(2) <= (FA(6) XOR FB(2) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(1)));
Y(3) <= (FA(7) XOR FB(3) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(2)));
Y(4) <= (FA(8) XOR FB(4) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(3)));
Y(5) <= ((B(8) XOR B(7) XOR A(5)) XOR FB(5) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(4)));
Y(6) <= ((B(8) XOR B(8) XOR A(6)) XOR FB(6) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(5)));
Y(7) <= ((B(8) XOR B(8) XOR A(7)) XOR FB(7) XOR (A(8) XOR A(8) XOR CD(6)));
end Behavioral;

program MencariTahananResistor ;
uses wincrt ;
var
warna1,warna2,warna3,warna4 : string ;
warni1,warni2,warni3 : integer ;
warni4:real;
hambatan : real;

begin
write(‘masukan warna 1:’); readln(warna1);
write(‘masukan warna 2:’); readln(warna2);
write(‘masukan warna 3:’); readln(warna3);
write(‘masukan warna 4:’); readln(warna4);

if warna1 = ‘hitam’ then warni1 := 0 ;
if warna1 = ‘coklat’ then warni1 := 1 ;
if warna1 = ‘merah’ then warni1 := 2 ;
if warna1 = ‘jingga’ then warni1 := 3 ;
if warna1 = ‘kuning’ then warni1 := 4 ;
if warna1 = ‘hijau’ then warni1 := 5 ;
if warna1 = ‘biru’ then warni1 := 6 ;
if warna1 = ‘ungu’ then warni1 := 7 ;
if warna1 = ‘abu-abu’ then warni1:= 8 ;
if warna1 = ‘putih’ then warni1 := 9 ;

if warna2 = ‘hitam’ then warni2 := 0 ;
if warna2 = ‘coklat’ then warni2 := 1 ;
if warna2 = ‘merah’ then warni2 := 2 ;
if warna2 = ‘jingga’ then warni2 := 3 ;
if warna2 = ‘kuning’ then warni2 := 4 ;
if warna2 = ‘hijau’ then warni2 := 5 ;
if warna2 = ‘biru’ then warni2 := 6 ;
if warna2 = ‘ungu’ then warni2 := 7 ;
if warna2 = ‘abu-abu’ then warni2:= 8 ;
if warna2 = ‘putih’ then warni2 := 9 ;

if warna3 = ‘hitam’ then warni3 := 0 ;
if warna3 = ‘coklat’ then warni3 := 1 ;
if warna3 = ‘merah’ then warni3 := 2 ;
if warna3 = ‘jingga’ then warni3 := 3 ;
if warna3 = ‘kuning’ then warni3 := 4 ;
if warna3 = ‘hijau’ then warni3 := 5 ;
if warna3 = ‘biru’ then warni3 := 6 ;
if warna3 = ‘ungu’ then warni3 := 7 ;
if warna3 = ‘abu-abu’ then warni3:= 8 ;
if warna3 = ‘putih’ then warni3 := 9 ;

if warna4 = ‘emas’ then warni4 := (5/100) ;
if warna4 = ‘perak’ then warni4 := (10/100);

writeln(‘Maka tahanan resistor adalah:’,warni1,warni2,’ x 10^’,warni3,’ ‘,warni4:2:2);
hambatan:=((warni1*10)+warni2)*(exp(warni3*ln(10)));
writeln(‘hasilnya adalah: ‘,hambatan:15:2);
end.

Operational Amplifier atau di singkat op-amp merupakan salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian inverter, non-inverter, integrator dan differensiator. Pada pokok bahasan kali ini akan dipaparkan beberapa aplikasi op-amp yang paling dasar, yaitu rangkaian penguat inverting, non-inverting differensiator dan integrator.

I. Pengertian Dasar Op-Amp
Operational Amplifier atau di singkat op-amp merupakan salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian inverter, non-inverter, integrator dan differensiator. Pada pokok bahasan kali ini akan dipaparkan beberapa aplikasi op-amp yang paling dasar, yaitu rangkaian penguat inverting, non-inverting differensiator dan integrator.

Pada Op-Amp memiliki 2 rangkaian feedback (umpan balik)yaitu feedback negatif dan feedback positif dimana Feedback negatif pada op-amp memegang peranan penting. Secara umum, umpanbalik positif akan menghasilkan osilasi sedangkan umpanbalik negatif menghasilkan penguatan yang dapat terukur.

Op-amp ideal
Op-amp pada dasarnya adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial) yang memiliki dua masukan. Input (masukan) op-amp ada yang dinamakan input inverting dan non-inverting. Op-amp ideal memiliki open loop gain (penguatan loop terbuka) yang tak terhingga besarnya. Seperti misalnya op-amp LM741 yang sering digunakan oleh banyak praktisi elektronika, memiliki karakteristik tipikal open loop gain sebesar 104 ~ 105. Penguatan yang sebesar ini membuat op-amp menjadi tidak stabil, dan penguatannya menjadi tidak terukur (infinite). Disinilah peran rangkaian negative feedback (umpanbalik negatif) diperlukan, sehingga op-amp dapat dirangkai menjadi aplikasi dengan nilai penguatan yang terukur (finite).

Impedasi input op-amp ideal mestinya adalah tak terhingga, sehingga mestinya arus input pada tiap masukannya adalah 0. Sebagai perbandingan praktis, op-amp LM741 memiliki impedansi input Zin = 106 Ohm. Nilai impedansi ini masih relatif sangat besar sehingga arus input op-amp LM741 mestinya sangat kecil.

Ada dua aturan penting dalam melakukan analisa rangkaian op-amp berdasarkan karakteristik op-amp ideal. Aturan ini dalam beberapa literatur dinamakan golden rule, yaitu :

Aturan 1:Perbedaan tegangan antara input v+ dan v- adalah nol (v+ – v- = 0 atau v+ = v- )
Aturan 2:Arus pada input Op-amp adalah nol (i+ = i- = 0)

Inilah dua aturan penting op-amp ideal yang digunakan untuk menganalisa rangkaian op-amp.

II. Karakteristik Dasar Op-Amp

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pada dasarnya Op-amp adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial), yang mana memiliki 2 input masukan yaitu input inverting (V-) dan input non-inverting(V+), Rangkaian dasar dari penguat diferensial dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini:Pada rangkaian diatas, dapat diketahui tegangan output (Vout) adalah Vout = A(v1-v2) dengan A adalah penguatan dari penguat diferensial ini. Titik input v1 dikatakan sebagai input non-iverting, sebab tegangan vout satu phase dengan v1. Sedangkan sebaliknya titik v2 dikatakan input inverting sebab berlawanan phasa dengan tengangan vout.

Diagram Blok Op-amp
Op-amp di dalamnya terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah penguat diferensial, lalu ada tahap penguatan (gain), selanjutnya ada rangkaian penggeser level (level shifter) dan kemudian penguat akhir yang biasanya dibuat dengan penguat push-pull kelas B. Gambar-2(a) berikut menunjukkan diagram dari op-amp yang terdiri dari beberapa bagian tersebut.Simbol op-amp adalah seperti pada gambar-2(b) dengan 2 input, non-inverting (+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc dan –Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc – ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar-2(b) adalah parameter umum dari sebuah op-amp. Rin adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit (tak terhingga). Rout adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol). Sedangkan AOL adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak terhingga.

Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik. Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin. Untuk tipe yang sama, tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan insial atau nama yang berbeda. Misalnya dikenal MC1741 dari motorola, LM741 buatan National Semiconductor, SN741 dari Texas Instrument dan lain sebagainya. Tergantung dari teknologi pembuatan dan desain IC-nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan op-amp lain.

Menyusun Rumus Aturan Sinus & Cosinus Matematika

Misalnya siswa sudah tahu pakai rumus aturan sin atau aturan cos. Masalah berikutnya ada sebagian siswa yang masih bingung bagaimana menyusun rumusnya.

rumus Aturan Sinus pada segitiga ABC adalah: sin A : BC = sin B : AC = sin C : AB. ….(1)
karena perbandingan maka rumus aturan sinus pada segitiga ABC boleh juga ditulis:
BC : sin A = AC : sin B = AB : sin C. ….(2)
Perhatikan bahwa pada masing masing ruas selalu terdapat nama segitiga tersebut yaitu ABC.
Ruas kiri:
pada persamaan (1) sin A : BC atau pada persamaan (2) BC : sin A.
Ruas tengah:
pada persamaan (1) sin B : AC atau pada persamaan (2) AC : sin B.
Ruas kanan:
pada persamaan (1) sin C : AB atau pada persamaan (2) AB : sin C.
Catatan:
sin A = sin BAC = sin CAB
sin B = sin ABC = sin CBA
sin C = sin ACB = sin BCA
ruas garis AB = BA, AC = CA, dan BC = CB
segitiga ABC = segitiga BAC = segitiga CAB = segitiga BCA = segitiga ACB.
Contoh 1:
Pada segitiga ABC diketahui panjang sisi AB = 8 cm, besar sudut BAC = 60 derajat, dan besar sudut CBA = 75 derajat. Tentukan panjang sisi BC!
Jawab:
Karena diketahui 2 sudut maka gunakan aturan sinus.

Jika ditanya panjang sisi BC maka yang ditulis dahulu diruas kiri adalah BC.
BC : sin A (ingat pada setiap ruas rumus aturan sinus terdapat nama segitiga yang diketahui).
Karena diruas kiri rumus dimulai dengan panjang ruas garis maka di ruas kanan juga dimulai dengan panjang ruas garis. Dalam hal ini AB (karena pada soal diketahui panjang ruas garis AB).
AB : sin C.
BTW yang ada kan cuman sudut BAC = sudut A dan sudut CBA = sudut B.
Besar sudut C kan belum diketahui… Tenang aja ;).
Pada suatu segitiga ABC berlaku:
sudut A + sudut B + sudut C = 180 derajat.
sudut C = 180 derajat – sudut A – sudut B. Bisa ditentukan besar sudut C nya kan.
Jadi rumus aturan sinus yang dipakai adalah BC : sin A = AB : sin C.
Rumus Aturan Cosinus pada segitiga PQR adalah:
(1) PQ kuadrat = PR kuadrat + RQ kuadrat – 2 . PR . RQ . cos R
(2) PR kuadrat = PQ kuadrat + QR kuadrat – 2 . PQ . QR . cos Q
(3) QR kuadrat = QP kuadrat + PR kuadrat – 2 . QP . PR . cos P
Perhatikan bahwa nama garis di ruas kiri dan nama sudut di ruas kanan sesuai dengan nama segitiga tersebut yaitu PQR.
Trus bagaimana dengan ruas kanan?
Bentuk kuadrat diruas kanan diambil dari ruas kiri, caranya adalah menyelipkan huruf dari nama segitiga yang belum ada di ruas kiri.
Pada persamaaan (1) ruas kirinya PQ maka ruas kanannya adalah PR dan RQ.
Pada persamaaan (2) ruas kirinya PR maka ruas kanannya adalah PQ dan QR.
Pada persamaaan (3) ruas kirinya QR maka ruas kanannya adalah QP dan PR.
Contoh 2:
Pada segitiga PQR ditentukan panjang sisi-sisi PQ = 10 cm, PR = 12 cm dan QR = 8 cm. Nilai sin R = ….
Jawab:
Karena tidak ada sudut yang diketahui maka gunakan aturan cosinus!
Karena yang ditanya sudut R maka tulislah pada ruas kiri PQ (ingat garis di ruas kiri dan nama sudut di ruas kanan sesuai dengan nama segitiga PQR).
Bentuk kuadrat diruas kanan adalah dengan menyelipkan huruf yang belum ada pada ruas garis disebelah kiri. Ruas garis disebelah kiri adalah PQ. Dari nama segitiga PQR berarti huruf yang belum di pakai adalah R. Di ruas kanan akan menggunakan panjang ruas garis PR dan RQ.
Jadi rumus aturan cosinus yang digunakan adalah:
PQ kuadrat = PR kuadrat + RQ kuadrat – 2 . PR . RQ . cos R
Yang muncul nanti adalah nilai cos R. Iya dhonk… Kan pakai rumus aturan cosinus. Padahal yang ditanya sin R. Gimana dhonk?
Nah, untuk mendapatkan nilai sin R gunakan pengertian trigonometri. Dalam hal ini kita tidak lagi berbicara tentang segitiga PQR. Sekarang yang kita bicarakan adalah segitiga siku-siku dengan salah satu sudutnya adalah R dan nilai cos R diketahui.
Menurut pengertian trigonometri:
Nilai cosinus suatu sudut = sisi samping : sisi miring.
Anggap nilai cos R yang telah diperoleh sebagai perbandingan sisi samping dan sisi miring.
Jadi sudah diketahui sisi samping dan sisi miring. Yang ditanya sin R.
Nilai sinus suatu sudut = sisi depan : sisi miring.
sisi depan kan belum ada?
Pada suatu segitiga siku-siku berlaku:
sisi depan kuadrat = sisi miring kuadrat – sisi samping kudrat.
Nah sudah ada sisi depan dan sisi miring. Berarti sin R dapat ditentukan.

sumber: ansharikurniawan23.blogspot.com

#include “iostream.h”
#include “string.h”
#include “math.h”
#include “stdlib.h”
#include “stdio.h”

class hexa {
int decimal;
public:
hexa() {decimal=0;};
hexa(int d) {decimal=d;};
hexa(char h[])
{
int p = strlen(h);
int t;
double d = 0;
char temp;
//cek validasi karakter dulu: 0-9, A-F
//konversi ke decimal
for(int pangkat=p-1; pangkat>=0; pangkat–)
{
temp = h[(p-1)-pangkat]; //baca per karakter
switch (temp) { //jika huruf
case ‘A’ : t=10; break;
case ‘B’ : t=11; break;
case ‘C’ : t=12; break;
case ‘D’ : t=13; break;
case ‘E’ : t=14; break;
case ‘F’ : t=15; break;
default:
t = atoi(&temp); //jika numerik
}
d = d + t*pow(16,pangkat);
}
decimal = (int)d;
cout<<decimal<0;i++)
{
r[i]=n%16;
n=n/16;
}
i–;
for(;i>=0;i–)
{
if(r[i]==10)
printf(“A”);
else if(r[i]==11)
printf(“B”);
else if(r[i]==12)
printf(“C”);
else if(r[i]==13)
printf(“D”);
else if(r[i]==14)
printf(“E”);
else if(r[i]==15)
printf(“F”);
else
printf(“%d”,r[i]);
}
printf(“\n”);
};
};
void main()
{
hexa h(“A0″);
cout<<h.isEqual(160)<<endl;
h.displayhexa();
}

Jembatan Wheatstone

Jembatan Wheatstone adalah alat ukur yang ditemukan oleh Samuel Hunter Christie pada 1833 dan meningkat dan dipopulerkan oleh Sir Charles Wheatstone pada tahun 1843. Ini digunakan untuk mengukur suatu yang tidak diketahui hambatan listrik dengan menyeimbangkan dua kaki dari rangkaian jembatan, satu kaki yang mencakup komponen diketahui. kerjanya mirip dengan aslinya potensiometer .

//PROGRAM METEMATIKA

#include
#include
#include
#include
#include
#include

void hitung();
void konversi();
void garis ();
long total (int x, int y);

int ribuan = 0;
int limaratusan = 0;
int ratusan = 0;
int limapuluhan = 0;
int puluhan = 0;
int limaan = 0;
int satuan = 0;
int desimal;
char romawi[30];

void main()
{
const float phi = 3.14;
float a,b,c,d,e,f,n,r,x;
char m;
cout<<”SELAMAT DATANG DI PROGRAM MATEMATIKA”<<endl<<endl;
cout<<”oleh :”<<endl;
cout<<”I Gusti Agung Ngurah Arjaya (080010139)”<<endl;
cout<<”I Gede Sumaprana Budi (080010124)”<<endl<<endl;
cout<<”Press any key to continue”;
getch() ;
clrscr();
do
{
clrscr();
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| Nama : I Gusti Agung Ngurah Arjaya |”<<endl;
cout<<”| Nim : 080010139 |”<<endl;
cout<<”| Nama : I Gede Sumaprana Budi |”<<endl;
cout<<”| Nim : 080010124 |”<<endl;
cout<<”| Kelas : P081 |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| PROGRAM FUNGSI MATEMATIKA |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| Menu Pilihan |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| 1. Pembagian |”<<endl;
cout<<”| 2. Luas Lingkaran |”<<endl;
cout<<”| 3. Keliling Lingkaran |”<<endl;
cout<<”| 4. Luas Segitiga |”<<endl;
cout<<”| 5. Keliling Segitiga |”<<endl;
cout<<”| 6. Volume Bola |”<<endl;
cout<<”| 7. Operasi Pangkat (x pangkat n) |”<<endl;
cout<<”| 8. Operasi Akar (akar dari x) |”<<endl;
cout<<”| 9. Persamaan Kuadrat a(x*x)+b(x)+c |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| BONUS |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<”| 10. PROGRAM KASIR |”<<endl;
cout<<”| 11. PROGRAM KONVERSI KE BIL. ROMAWI |”<<endl;
cout<<”|======================================|”<<endl;
cout<<endl;
cout<>d;
if(d==1)
{
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;
c=a/b;
cout<<a<<” / “<<b<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==2)
{
clrscr();
cout<>a;
c=phi*a*a;
cout<<”Luas Lingkaran = “<<phi<<” * “<<a<<” * “<<a<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==3)
{
clrscr();
cout<>a;
c=2*phi*a;
cout<<”Keliling Lingkaran = “<<2<<” * “<<phi<<” * “<<a<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==4)
{
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;
c=0.5*a*b;
cout<<”Luas Segitiga = “<<0.5<<” * “<<a<<” * “<<b<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==5)
{
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;
c=a*b;
cout<<”Keliling Segitiga = “<<a<<” * “<<b<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==6)
{
clrscr();
cout<>r;
c=1.33333*phi*r*r*r;
cout<<”Volume Bola = “<<”4/3?<<” * “<<phi<<” * “<<r<<” * “<<r<<” * “<<r<<” = “<<c<<endl;
cout<<endl;
}
else if(d==7)
{
clrscr();
cout<>x;
cout<>n;
a= pow(x,n);
cout<<endl;
cout<<x<<” pangkat “<<n<<” = “<<a<<endl;
}
else if(d==8)
{
clrscr();
cout<>x;
a= sqrt(x);
cout<<endl;
cout<<” akar dari “<<x<<” = “<<a<<endl;
}
else if(d==11)
{
clrscr();
{
char lagi;
char kosong[30]=””;
do
{
clrscr();
strcpy(romawi,kosong);
hitung();
konversi();

cout<<”Bilangan Romawinya adalah : “<<romawi<<endl;
cout<>lagi;
lagi=toupper(lagi);
} while((lagi==’Y’)||(lagi==’y’));
getch();
}
}
else if(d==9)
{
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;
cout<>c;
d=sqrt(b*b-4*a*c);
if(d>=0)
{
e=(-b-d)/(2*a);
f=(-b+d)/(2*a);
cout<<”x1 : “<<e<<endl;
cout<<”x2 : “<<f<<endl<<endl;
}
else
cout<<”akar imajiner”<<endl;
}
else if(d==10)
{
clrscr();
cout<<”PROGRAM KASIR (MAKSIMAL 3)”<<endl<<endl;
char nama [25], harga [15], qty [10];
gotoxy (2,2);garis ();
gotoxy (2,3);cout<<”Nama Barang”;
gotoxy (25,3);cout<<”Harga”;
gotoxy (40,3);cout<<”QTY”;
gotoxy (50,3);cout<<”Bayar”;
gotoxy (2,4);garis ();

for (int i=1;i<=3;i++)
{
gotoxy(2,4+i);cin.getline(nama, sizeof(nama));
gotoxy(25,4+i);cin.getline(harga, sizeof(harga));
gotoxy(40,4+i);cin.getline(qty, sizeof(qty));
gotoxy(50,4+i);cout<<total(atoi(harga),atoi(qty));
cout<<endl<<endl;
}
}
else
{
cout<<”\nkode salah..!!”<<endl<<endl;
}
cout<>m;
}
while ((m==’y’)||(m==’Y’));
getch();
}
void garis()
{
cout<<”==============================================================”<<endl;
}
long total(int x,int y)
{
return (x*y);
}
void hitung()
{

ulang :
cout<>desimal;
if (desimal>3999)
{
cout<<”diluar jangkauan”<= 1000)
{
ribuan = desimal / 1000;
desimal = desimal % 1000;
goto proses;
}
else if (desimal >=500)
{
limaratusan = desimal / 500;
desimal = desimal % 500;
goto proses;
}
else if (desimal >= 100)
{
ratusan = desimal / 100;
desimal = desimal % 100;
goto proses;
}
else if (desimal >= 50)
{
limapuluhan = desimal / 50;
desimal = desimal % 50;
goto proses;
}
else if (desimal >= 10 )
{
puluhan = desimal / 10;
desimal = desimal % 10;
goto proses;
}
else if (desimal >=5)
{
limaan = desimal / 5;
desimal = desimal % 5;
goto proses;
}
else
satuan = desimal;
}

void konversi()
{

for(int i=1; i<=ribuan;i++)
strcat(romawi,”M”);

if((limaratusan==1)&&(ratusan !=4))
strcat(romawi,”D”);
if((limaratusan==0)&&(ratusan==4))
strcat(romawi,”CD”);
else
if((limaratusan==1)&&(ratusan==4))
strcat(romawi,”CM”);
else

for(int i=1;i<=ratusan;i++)
strcat(romawi,”C”);
if((limapuluhan==1)&&(puluhan!=4))
strcat(romawi,”L”);
if((limapuluhan==0)&&(puluhan==4))
strcat(romawi,”XL”);
else
if((limapuluhan==1)&&(puluhan==4))
strcat(romawi,”XC”);
else
for(int i=1;i<=puluhan;i++)
strcat(romawi,”X”);
if((limaan==1)&&(satuan!=4))
strcat(romawi,”V”);
if((limaan==0)&&(satuan==4))
strcat(romawi,”IV”);
else
if((limaan==1)&&(satuan==4))
strcat(romawi,”IX”);
else
for(int i=1;i<=satuan;i++)
strcat(romawi,”I”);
}

Struktur Program Borland C++

A P L I K A S I S E D E R H A N A – I M P L E M E N T A S I A P L I K A S I
R U N T U NAN
Berikut merupakan contoh sederhana pemrograman dengan bahasa C++, menggunakan
Borland C++

Contoh-1 #include
#include

main()
{
int a = 7;
char b = ‘G’;
clrscr();

printf(“%c Merupakan Abjad Yang Ke – %d”, b, a);
}

Pengenalan Tipe Data

Penjelasan Borland C++ memiliki 7 tipe data dasar

Tabel 2.1. Tipe Data

Tipe
Data Ukuran
Memori Jangkauan Nilai Format
Jumlah
Digit
Char 1 Byte -128 s.d 127
Int 2 Byte -32768 s.d 32767
Short 2 Byte -32768 s.d 32767
Long 4 Byte -2,147,435,648 s.d 2,147,435,647
Float 4 Byte 3.4 x 10-38 s.d 3.4 x 10+38 5 – 7
Double 8 Byte 1.7 x 10-308 s.d 1.7 x 10+308 15 – 16
Long
Double 10 Byte 3.4 x 10-4932 s.d 1.1 x 10+4932 19

Tipe data merupakan bagian program yang paling penting karena tipe data mempengaruhi setiap instruksi yang akan dilaksanakan oleh computer. Misalnya saja 5 dibagi 2 bisa saja menghasilkan hasil yang berbeda tergantung tipe datanya. Jika 5 dan 2 bertipe integer maka akan menghasilkan nilai 2, namun jika keduanya bertipe float maka akan menghasilkan nilai 2.5000000. Pemilihan tipe data yang tepat akan membuat proses operasi data menjadi lebih efisien dan efektif.

Dalam bahasa C terdapat lima tipe data dasar, yaitu :
No Tipe Data Ukuran Range Format Keterangan
1 char 1 byte -128 s/d 127 %c Karakter/string
2 int 2 byte - 32768 s/d 32767 %i , %d Integer/bilangan bulat
3 float `4 byte - 3.4E-38 s/d 3.4E+38 %f Float/bilangan pecahan
4 double 8 byte - 1.7E-308 s/d1.7+308 %lf Pecahan presisi ganda
5 void 0 byte - - Tidak bertipe
6 String - - %s String

Deklarasi Konstanta

Penjelasan Bentuk deklarasi konstanta diawali dengan reserved word const.

Bentuk penulisannya :

Konstanta merupakan suatu nilai yang tidak dapat diubah selama proses program berlangsung. Konstanta nilainya selalu tetap. Konstanta harus didefinisikan terlebih dahulu di awal program. Konstanta dapat bernilai integer, pecahan, karakter dan string. Contoh konstanta : 50; 13; 3.14; 4.50005; ‘A’; ‘Bahasa C’. Selain itu, bahasa C juga menyediakan beberapa karakter khusus yang disebut karakter escape, antara lain :
\a : untuk bunyi bell (alert)
\b : mundur satu spasi (backspace)
\f : ganti halaman (form feed)
\n : ganti baris baru (new line)
\r : ke kolom pertama, baris yang sama (carriage return)
\v : tabulasi vertical
: nilai kosong (null)
\’ : karakter petik tunggal
\” : karakter petik ganda
\\ : karakter garis miring

Variabel

Variabel adalah suatu pengenal (identifier) yang digunakan untuk mewakili suatu nilai tertentu di dalam proses program. Berbeda dengan konstanta yang nilainya selalu tetap, nilai dari suatu variable bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan.
Nama dari suatu variable dapat ditentukan sendiri oleh pemrogram dengan aturan sebagai berikut :
• Terdiri dari gabungan huruf dan angka dengan karakter pertama harus berupa huruf. Bahasa C bersifat case-sensitive artinya huruf besar dan kecil dianggap berbeda. Jadi antara nim, NIM dan Nim dianggap berbeda.
• Tidak boleh mengandung spasi.
• Tidak boleh mengandung symbol-simbol khusus, kecuali garis bawah (underscore). Yang termasuk symbol khusus yang tidak diperbolehkan antara lain : $, ?, %, #, !, &, *, (, ), -, +, = dsb
• Panjangnya bebas, tetapi hanya 32 karakter pertama yang terpakai.

Contoh penamaan variabel yang benar : NIM, a, x, nama_mhs, f3098, f4, nilai, budi, dsb.
Contoh penamaan variable yang salah : %nilai_mahasiswa, 80mahasiswa, rata-rata, ada spasi, penting!, dsb
variabel, dibagi menjadi dua jenis kelompok, yaitu :
• Variabel Numerik
• Variabel Teks

2.3.1. Variabel Numerik

Variabel numerik ini dibagi menjadi menjadi 3 (tiga) macam :
• Bilangan Bulat atau Integer
• Bilangan Desimal Berpresisi Tunggal atau Floating Point.
• Bilangan Desimal Berpresisi Ganda atau Double Precision.

2.3.2. Variabel Text

• Character ( Karakter Tunggal )
• String ( Untuk Rangkaian Karakter )

2.3.3. Deklarasi Variabel

Penjelasan Adalah proses memperkenalkan variabel kepada Borland C++ dan pendeklarasian tersebut bersifat mutlak karena jika tidak diperkenalkan terlebih dulu maka Borland C++ tidak menerima variabel tersebut.
Deklarasi Variabel ini meliputi tipe variabel, seperti : integer atau character dan nama variabel itu sendiri. Setiap kali pendeklarasian variabel harus diakhiri oleh tanda titik koma ( ; ).

Tabel 2.3. Deklarasi Variabel

TIPE VARIABEL SIMBOL DEKLARASI
Integer int
Floating Point float
Double Precision double
Karakter char
Unsigned Integer unsigned int
Unsigned Character unsigned char
Long Integer long int
Unsigned Long Integer unsigned long int
Bentuk penulisannya :

Contoh Deklarasi int nama_mahasiswa;
char grade;
float rata_rata ;
int nilai;

K O D E P E N E N T U FO R MA T
. %c : Membaca sebuah karakter
. %s : Membaca sebuah string
. %i, %d : Membaca sebuah bilangan bulat (integer)
. %f, %e : Membaca sebuah bilangan pecahan (real)
. %o : membaca sebuah bilangan octal
. %x : Membaca sebuah bilangan heksadesimal
. %u : Membaca sebuah bilangan tak bertanda.

Perintah Keluaran

#include //untuk mengaktifkan perintah printf dan scanf
#include //untuk mengaktifkan perintah getch()

Penjelasan Perintah standar output yang disediakan oleh Borland C++, diantaranya adalah :
• printf()
• puts()
• putchar()
• cout()

2.4.1 printf()

Penjelasan Fungsi printf() merupakan fungsi keluaran yang paling umum digunakan untuk menampilkan informasi kelayar.

Bentuk Penulisan

String-Kontrol dapat berupa keterangan yang akan ditampilkan pada layar beserta penentu format. Penentu format dipakai untuk memberi tahu kompiler mengenai jenis data yang dipakai dan akan ditampilkan.
Argumen ini dapat berupa variabel, konstanta dan ungkapan.

Tabel 2.4. Penentu Format Printf()

TIPE DATA Penentu Format Untuk printf()
Integer %d
Floating Point
Bentuk Desimal %f
Bentuk Berpangkat %e
Bentuk Desimal dan Pangkat %g
Double Precision %lf
Character %c
String %s
Unsigned Integer %u
Long Integer %ld
Long Unsigned Integer %lu
Unsigned Hexadecimal Integer %x
Unsigned Octal Integer %o

printf(“%c merupakan abjad yang ke – %d”,’b’,2);

b typenya char

Contoh-1 #include
#include

main()
{
int a = 7;
char b = ‘G’;
clrscr();

printf(“%c Merupakan Abjad Yang Ke – %d”, b, a);
}

a. Penggunaan Penentu Lebar Field

Penjelasan Bila ingin mencetak atau menampilkan data yang bertipe data FLOAT atau pecahan, tampilan yang tampak biasanya kurang bagus. Hal tersebut dapat diatur lebar field-nya dan jumlah desimal yang ingin dicetak. Berikut bentuk penulisannya :

Contoh-2 #include
#include

main()
{
float a = 7.50, b = 243.21;
clrscr();
printf(“Bilangan A = %f \n”, a);
printf(“Bilangan B = %f”, b);
}

Output yang akan dihasilkan, jika tidak menggunakan panentu lebar field adalah

Bilangan A = 7.500000
Bilangan B = 243.210007

Contoh-3 #include
#include
main()
{
float a = 7.50, b = 243.21;
clrscr();
printf(“Bilangan A = %4.1f \n”, a);
printf(“Bilangan B = %4.1f”, b);
}

Output yang akan dihasilkan, jika menggunakan panentu lebar field adalah

Bilangan A = 7.5
Bilangan B = 243.2

2.4.2. puts()

Penjelasan Perintah puts() sebenarnya sama dengan printf(), yaitu digunakan untuk mencetak string ke layar. puts() berasal dari kata PUT STRING.

Perbedaan antara printf() dengan puts() adalah :

Tabel 2.6. Perbedaan fungsi puts() dengan printf()

printf() puts()
Harus menentukan tipe data untuk data string, yaitu %s Tidak Perlu penentu tipe data string, karena fungsi ini khusus untuk tipe data string.
Untuk mencetak pindah baris, memerlukan notasi ‘ \n ‘ Untuk mencetak pindah baris tidak perlu notasi ‘ \n ‘ , karena sudah dibeikan secara otomatis.

Contoh-4 #include
#include

main()
{
char a[4] = “BSI”;
clrscr();
puts(“Saya Kuliah di. “);
puts(a);
}

2.4.3. putchar()

Penjelasan Perintah putchar() digunakan untuk menampilkan sebuah karakter ke layar. Penampilan karakter tidak diakhiri dengan pindah baris.

Contoh-5 #include
#include

main()
{
clrscr();
putchar(‘B’);
putchar(‘S’);
putchar(‘I’);
}

2.4.4. cout()

Penjelasan Fungsi cout() merupakan sebuah objeck didalam Borland C++ digunakan untuk menampilkan suatu data kelayar. Untuk menggunakan fungsi cout() ini, harus menyertakan file header iostream.h .

Contoh-6 #include
#include
#include

main()
{
float a, b, c;

a=7.5; b=8.4; c=0
clrscr();
cout<<"Masukan Nilai A : "<<a;
cout<<"Masukan Nilai B : "<<b;

c = a + b;

cout<<"Masukan Nilai C : "<<c;
getch();
}

2.4.5. Fungsi Manipulator

Penjelasan Manipulator pada umumnya digunakan untuk mengatur tampilan layar, untuk mengguakan manipulator ini file header yang harus disertakan file header iomanip.h . Ada beberapa fungsi manipulator yang disediakan oleh Borland C++, antara lain.

• endl
• end
• flush()
• dec()
• hex()
• oct() • setbase()
• setw()
• setfill()
• setprecision()
• setosflags()

Berikut akan dibahas beberapa fungsi manipulator, diantaranya :

a. endl

Penjelasan endl merupakan suatu fungsi manipulator yang digunakan untuk menyisipkan karakter NewLine atau mengatur pindah baris. Fungsi ini sangat berguna untuk piranti keluaran berupa file di disk. File header yang harus disertakan adalah file header iostream.h .

Contoh-7 # include
# include
# include
main()
{
float a, b, c;

a=7.5; b=8.4; c=0
clrscr();
cout<<"Masukan Nilai A : "<<a<<endl;
cout<<"Masukan Nilai B : "<<b<<endl;

c = a + b;

cout<<"Masukan Nilai C : "<<c<<endl;
getch();
}

b. ends

Penjelasan ends merupakan suatu fungsi manipulator yang digunakan untuk menambah karakter null ( nilai ASCII NOL ) kederetan suatu karakter. Fungsi ini akan berguna untuk mengirim sejumlah karakter kefile didisk atau modem dan mangakhirinya dengan karakter NULL.. File header yang harus disertakan adalah file header iostream.h .

Contoh-8 # include
# include
# include

main()
{
int a, b, c, d;
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;

c = a % b;
d = a * b;

cout<<"Hasil dari C = A % B adalah "<<c<<ends;
cout<<"Hasil dari D = A * B adalah "<<d<<ends;
getch();
}

c. dec, oct dan hex

Penjelasan dec, oct dan hex merupakan suatu fungsi manipulator yang digunakan untuk menampilkan data dalam bentuk desimal, oktal dan hexadesimal. File header yang harus disertakan adalah file header iomanip.h .

Contoh-9 # include
# include
# include
# include
void main()
{
int nilai = 10;
clrscr();

cout<<"Nilai = "<<nilai<<endl;
cout<<"Nilai ke Octal = "<<oct<<nilai<<endl;
cout<<"Nilai ke Hexadesimal = "<<hex<<nilai<<endl;
cout<<"Nilai ke Desimal = "<<dec<<nilai<<endl;

getch();
}

d. setprecision ()

Penjelasan Fungsi setprecision() merupakan suatu fungsi manipulator yang digunakan untuk mengatur jumlah digit desimal yang ingin ditampilkan. Fungsi ini biasa pada fungsi cout(), file header yang harus disertakan adalah file header iomanip.h .

Contoh-10 # include
# include
# include
# include

void main()
{
float a, b, c;
a = 25.77;
b = 23.45;
clrscr();

c = a * b;

cout<<setiosflags(ios::fixed);
cout<<setprecision(1)<<c<<endl;
cout<<setprecision(2)<<c<<endl;
cout<<setprecision(3)<<c<<endl;
cout<<setprecision(4)<<c<<endl;
cout<<setprecision(5)<<c<<endl;
getch();
}

2.5. Perintah Masukan

Penjelasan Perintah standar input yang disediakan oleh Borland C++, diantaranya adalah :
• scanf()
• gets()
• cout()
• getch
• getche()

2.5.1. scanf()

Penjelasan Fungsi scanf() digunakan untuk memasukkan berbagai jenis data. Bentuk Umum dari fungsi ini adalah :

Keterangan simbol & merupakan pointer yang digunakan untuk menunjuk kealamat variabel memori yang dituju.

Tabel 2.7. Penentu Format scanf()

TIPE DATA Penentu Format Untuk scanf()
Integer %d
Floating Point
Bentuk Desimal %e atau %f
Bentuk Berpangkat %e atau %f
Double Precision %lf
Character %c
String %s
Unsigned Integer %u
Long Integer %ld
Long Unsigned Integer %lu
Unsigned Hexadecimal Integer %x
Unsigned Octal Integer %o

Contoh-11 # include
# include
main()
{
int a, b, c = 0 ;
clrscr();
printf(“Masukan Nilai A = “); scanf(“%d”,&a);
printf(“Masukan Nilai B = “); scanf(“%d”,&b);

c = a + b;
printf(“Hasil Penjumlahan = %d”,c);
}
2.5.2. gets()

Penjelasan Fungsi gets() digunakan untuk memasukkan data string. Bentuk Umum dari fungsi ini adalah :

Perbedaan antara scanf() dengan gets() adalah :

Tabel 2.8. Perbedaan scanf() dengan gets()

scanf() gets()
Tidak dapat menerima string yang mengandung spasi atau tab dan dianggap sebagai data terpisah Dapat menerima string yang mengandung spasi atau tab dan masing dianggap sebagai satu kesatuan data.

Contoh-12 # include
# include

main()
{
char nm1[20];
char nm2[20];

clrscr();

puts(“Masukan nama ke – 1 = “);
gets(nm1);
printf(“Masukan nama ke – 2 = “);
scanf(“%s”,&nm2);

printf(“\n\n”);

puts(“Senang Berkenalan Dengan Anda ..”);
puts(nm1);
printf(“Senang Berkenalan Dangan Anda ..%s”, nm1);
puts(“Senang Berkenalan Dangan Anda ..”);
puts(nm1);

printf(“\n\n”);

puts(“Senang Berkenalan Dangan Anda ..”);
puts(nm2);
printf(“Senang Berkenalan Dangan Anda ..%s”, nm2);
}

2.5.3. cin ()

Penjelasan Fungsi cin() merupakan sebuah objeck didalam C++ digunakan untuk memasukkan suatu data. Untuk menggunakan fungsi cin() ini, harus menyertakan file header iostream.h .

Contoh-13 # include
# include
# include

main()
{
float a, b, c;

clrscr();
cout<>a;
cout<>b;

c = a + b;

cout<<"Masukan Nilai C : "<<c<<endl;
}

2.5.4. getch ()

Penjelasan Fungsi getch() (get character and echo) dipakai untuk membaca sebuah karakter dengan sifat karakter yang dimasukkan tidak perlu diakhiri dengan menekan tombol ENTER, dan karakter yang dimasukan tidak akan ditampilkan di layar. File header yang harus disertakan adalah conio.h.

Contoh-14 # include
# include

main()
{
char kar;

clrscr();

printf(“Masukan Sebuah Karakter Bebas = “);
kar = getch();
printf(“\nTadi Anda Memasukan karakter %c”, kar);
getch();
}

2.5.5. getche()

Penjelasan Fungsi getche()dipakai untuk membaca sebuah karakter dengan sifat karakter yang dimasukkan tidak perlu diakhiri dengan menekan tombol ENTER, dan karakter yang dimasukan ditampilkan di layar. File header yang harus disertakan adalah conio.h.
Contoh-15 # include
# include

main()
{
char kar;

clrscr();

printf(“Masukan Sebuah Karakter Bebas = “);
kar = getche();
printf(“\nTadi Anda Memasukan karakter %c”, kar);
getch ();
}

Selain itu kedua fungsi ini dapat digunakan untuk menahan agar tidak langsung balik kembali kedalam listing program dan hasil dari program yang di eksekusi dapat dilihat tanpa menekan tombol ALT – F5. Karena fungsi getch() merupakan fungsi masukkan, jadi sebelum program keluar harus menginputkan satu buah karakter.

. Operator Aritmatika

Penjelasan Operator untuk operasi aritmatika yang tergolong sebagai operator binary adalah :

Tabel 3.1. Operator Aritmatika

Operator Keterangan Contoh
* Perkalian 4 * 5
/ Pembagian 8 / 2
% Sisa Pembagian 5 % 2
+ Penjumlahan 7 + 2
− Pengurangan 6 − 2

Operator yang tergolong sebagai operator Unary, adalah :

Tabel 3.2. Operator Unary

Operator Keterangan Contoh
+ Tanda Plus −4
− Tanda Minus +6

Contoh-1 #include
#include
#include
main()
{
int a, b, c = 0, d = 0;
clrscr();
cout<>a;
cout<>b;
c = a % b;
d = a * b;
cout<<" Hasil dari C = A % B = "<<c<<endl;
cout<<" Hasil dari D = A * B = "<<d<<endl;
getch();
}

Bab 4 : Operasi Penyeleksian Kondisi

Penjelasan Pernyataan Percabangan digunakan untuk memecahkan persoalan untuk mengambil suatu keputusan diantara sekian pernyataan yang ada. Untuk keperluan pengambilan keputusan, Borland C++ menyediakan beberapa perintah antara lain.

4.1. Pernyataan IF

Penjelasan Pernyataan if mempunyai pengertian, “ Jika kondisi bernilai benar, maka perintah akan dikerjakan dan jika tidak memenuhi syarat maka akan diabaikan”. Dari pengertian tersebut dapat dilihat dari diagram alir berikut:

salah

benar
Gambar 4.1. Diagram Alir IF

Bentuk umum dari pernyataan if

Penulisan kondisi harus didalam tanda kurung dan berupa ekspresi relasi dan penulisan pernyataan dapat berupa sebuah pernyataan tunggal, pernyataan majemuk atau pernyataan kosong. Jika pemakaian if diikuti dengan pernyataan majemuk, bentuk penulisannya sebagai berikut :

Contoh 1 :

Menentukan besarnya potongan dari pembelian barang yang diberikan seorang pembeli, dengan kriteria :
• Tidak ada potongan jika total pembelian kurang dari Rp. 50.000,-
• Jika total pembelian lebih dari atau sama dengan Rp. 50.000,- potongan yang diterima sebesar 20% dari total pembelian.

Program-IF -

#include
#include
#include

main()
{
double tot_beli, potongan=0, jum_bayar=0;
clrscr();

cout<>tot_beli;

if (tot_beli >= 50000)
potongan = 0.2 * tot_beli;

cout>>”Besarnya Potongan Rp. “<<potongan<>”Jumlah yang harus dibayarkan Rp. “,jum_bayar;

getch();
}

Contoh 2 :
Buatlah sebuah program menuliskan teks “Program Diploma Komputer” jika diinput sebuah bilangan ganjil.
Program 2 :
//—————————————————————————
#include
#include
int main(int argc, char* argv[])
{
int x;
printf(“Masukkan sebuah bilangan = “);
scanf(“%d”,&x);
if(x%2!=0)
{
printf(“Program Diploma Komputer”);
}
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

4.1.1. Pernyataan IF – ELSE

Penjelasan Pernyataan if mempunyai pengertian, “ Jika kondisi bernilai benar, maka perintah-1 akan dikerjakan dan jika tidak memenuhi syarat maka akan mengerjakan perintah-2”. Dari pengertian tersebut dapat dilihat dari diagram alir berikut

salah

benar

Gambar 7.2. Diagram Alir if-else

Bentuk umum dari pernyataan if

Perintah-1 dan perintah-2 dapat berupa sebuah pernyataan tunggal, pernyataan majemuk atau pernyataan kosong. Jika pemakaian if-else diikuti dengan pernyataan majemuk, bentuk penulisannya sebagai berikut :

Contoh
Menentukan besarnya potongan dari pembelian barang yang diberikan seorang pembeli, dengan kriteria :
• jika total pembelian kurang dari Rp. 50.000,- potongan yang diterima sebesar 5% dari total pembelian.
• Jika total pembelian lebih dari atau sama dengan Rp. 50.000,- potongan yang diterima sebesar 20% dari total pembelian.

Program- IF-Else #include
#include
#INCLUDE
main()
{
double tot_beli, potongan=0, jum_bayar=0;
clrscr();

cout<>tot_beli;

if (tot_beli >= 50000)
potongan = 0.2 * tot_beli;
else
potongan = 0.05 * tot_beli;

cout>>”Besarnya Potongan Rp. “<<potongan<>”Jumlah yang harus dibayarkan Rp. “,jum_bayar;

getch();
}

4.1.2. Pernyataan NESTED IF

Penjelasan Nested if merupakan pernyataan if berada didalam pernyataan if yang lainnya. Bentuk penulisan pernyataan Nested if adalah :

Contoh

Suatu perusahaan memberikan komisi kepada para selesman dengan ketentuan sebagai berikut:

• Bila salesman dapat menjual barang hingga Rp. 20.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 10.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 10% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.
• Bila salesman dapat menjual barang diatas Rp. 20.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 20.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 15% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.
• Bila salesman dapat menjual barang diatas Rp. 50.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 30.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 20% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.

Contoh-Nested-If #include
#include
#include

main()
{
float pendptan, jasa=0, komisi=0, total=0;
clrscr();

cout>>”Pendapatan Hari ini Rp. “;
cin= 0 && pendptan <= 200000)
{
jasa=10000;
komisi=0.1*pendptan;
}
else
{
if(pendptan<=500000)
{
jasa=20000;
komisi=0.15*pendptan;
}
else
{
jasa=30000;
komisi=0.2*pendptan;
}
}

/* menghitung total */
total = komisi+jasa;

cout<<"Uang Jasa Rp. "<<jasa<<endl;
cout<<"Uang Komisi Rp. "<<komisi<<endl;
cout<<"============================="<<endl;
cout<<"Hasil Total Rp. "<<total<<endl;

getch();
}

4.1.3. Pernyataan IF – ELSE Majemuk

Penjelasan Bentuk dari if-else bertingkat sebenarnya serupa dengan nested if, keuntungan penggunanan if-else bertingkat dibanding dengan nested if adalah penggunaan bentuk penulisan yang lebih sederhana.

Bentuk Penulisannya

Contoh

Suatu perusahaan memberikan komisi kepada para selesman dengan ketentuan sebagai berikut:
• Bila salesman dapat menjual barang hingga Rp. 200.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 10.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 10% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.
• Bila salesman dapat menjual barang diatas Rp. 200.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 20.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 15% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.
• Bila salesman dapat menjual barang diatas Rp. 500.000 ,- , akan diberikan uang jasa sebesar Rp. 30.000 ditambah dengan uang komisi Rp. 20% dari pendapatan yang diperoleh hari itu.

Contoh-IF-Else-IF

#include
#include
#include

main()
{
float pendptan, jasa=0, komisi=0, total=0;
clrscr();

cout>>”Pendapatan Hari ini Rp. “;cin= 0 && pendptan <= 200000)
{
jasa=10000;
komisi=0.1*pendptan;
}
else if(pendptan<=500000)
{
jasa=20000;
komisi=0.15*pendptan;
}
else
{
jasa=30000;
komisi=0.2*pendptan;
}

/* menghitung total */
total = komisi+jasa;

cout<<"Uang Jasa Rp. "<<jasa<<endl;
cout<<"Uang Komisi Rp. "<<komisi<<endl;
cout<<"============================="<<endl;
cout<<"Hasil Total Rp. "<<total<<endl;

getch();
}

4.2. Pernyataan switch – case

Penjelasan Bentuk dari switch – case merupakan pernyataan yang dirancangan khusus untuk menangani pengambilan keputusan yang melibatkan sejumlah atau banyak alternatif penyelesaian. Pernyataan switch – case ini memiliki kegunaan sama seperti if – else bertingkat, tetapi penggunaannya untuk memeriksa data yang bertipe karakter atau integer. Bentuk penulisan perintah ini sebagai berikut :

Setiap cabang akan dijalankan jika syarat nilai konstanta tersebut dipenuhi dan default akan dijalankan jika semua cabang diatasnya tidak terpenuhi.
Pernyataan break menunjukan bahwa perintah siap keluar dari switch. Jika pernyataan ini tidak ada, maka program akan diteruskan kecabang – cabang yang lainnya.

Contoh-Switch-Case-1

#include
#include
#include

main()
{
char kode;
clrscr();
cout<>kode;

switch(kode)
{
case ‘A’ :
cout<<"Alat Olah Raga";
break;
case 'B' :
cout<<"Alat Elelktronik";
break;
case 'C' :
cout<<"Alat Masak";
break;
default:
cout<<"Anda Salah Memasukan kode";
break;
}
getch();
}

Contoh- Switch-Case-2

#include
#include
#include

main()
{
char kode;
clrscr();
cout<>kode;

switch(kode)
{
case ‘A’ :
case ‘a’ :
cout<<"Alat Olah Raga";
break;

case 'B' :
case 'b' :

cout<<"Alat Elelktronik";
break;
case 'C' :
case 'c' :
cout<<"Alat Masak";
break;
default:
cout<<"Anda Salah Memasukan kode";
break;
}
getch();
Proses Perulangan

Penjelasan Operasi perulangan selalu dijumpai didalam bahasa pemrograman, disini akan dibahasa beberapa perintah perulangan diantaranya.

5.1. Pernyataan for

Penjelasan Perulangan yang pertama adalah for. Bentuk umum pernyataan for sebagai berikut :

Bila pernyataan didalam for lebih dari satu maka pernyataan-pernyataan tersebut harus diletakan didalam tanda kurung.

Kegunaan dari masing-masing argumen for diatas adalah :

• Inisialisasi : merupakan bagian untuk memberikan nilai awal untuk variabel-variabel tertentu.
• Syarat Pengulangan : memegang kontrol terhadap pengulangan, karena bagian ini yang akan menentukan suatu perulangan diteruskan atau dihentikan.
• Pengubah Nilai Pencacah : mengatur kenaikan atau penurunan nilai pencacah.

Contoh :

Sebagai contoh program untuk mencetak bilangan dari 1 hingga 10 secara menaik, secara menurun dan menampilkan bilangan ganjil, sebagai berikut:

Contoh-1 /* ————————— */
/* Program for – bilangan naik */
/* ————————— */

#include
#include
#include
main()
{
int a;
clrscr();
for(a = 1; a >a;

getch();
}

Contoh-2 /* —————————- */
/* Program for – bilangan turun */
/* —————————- */

# include
# include
#include

main()
{
int a;
clrscr();
for(a = 10; a >= 1; –a)
cout>>a;

getch();
}

Contoh-3 /* —————————– */
/* Program for – bilangan ganjil */
/* —————————– */

#include
#include
#include

main()
{
int a;
clrscr();
for(a = 1; a >a;

getch();
}

Contoh-4 /* ——————————*/
/* Program Menampilkan Warna – 1 */
/* ——————————*/
#include
#include
main()
{
int a=2, b=1, c=2, d=1, e;
clrscr();
for(e=1; 17>e; e++)
{
gotoxy(e, e); textcolor(e);
cprintf(“\nwarna ke-%d”,e);
}
textcolor(4+BLINK); cprintf(“Borland C++”);
getche();
}

Contoh-5 /* ——————————*/
/* Program Menampilkan Warna – 2 */
/* ——————————*/
#include
#include
int main(void)
{
int i;

clrscr();
for (i=0; i<20; i++)
{
textattr(i + ((i+1) << 4));
cprintf("Borland C++\r\n");
}
getch();
return 0;
}

5.1.1. Pernyataan nested – for

Penjelasan Pernyataaan Nested for adalah suatu perulangan for didalam perulangan for yang lainnya. Bentuk umum pernyataan Nested for sebagai berikut :

Didalam penggunaan nested-for, perulangan yang didalam terlebih dahulu dihitung hingga selesai, kemudian perulangan yang diluar diselesaikan.

Contoh-6 /* ————————- */
/* Program for – Nested for */
/* ————————- */
#include
#include
main()
{
int a, b;
clrscr();

for(a = 1; a <= 5; a++)
{
printf("\n");
for(b = a; b <= 5; b++)
printf(" %d ",a);
}
getch();
}

5.1.2. Perulangan Tidak Berhingga

Penjelasan Perulangan tak berhingga merupakan perulangan ( loop ) yang tak pernah berhenti atau mengulang terus, hal ini sering terjadi disebabkan adanya kesalahan penanganan kondisi yang dipakai untuk keluar dari loop.
Sebagai contoh, jika penulisan perintah sebagai berikut :

Contoh-6 /* ————————- */
/* Program for Tdk Berhingga */
/* ————————- */
#include
#include
main()
{
int bil;
clrscr();
for (bil = 60; bil >=10; bil++)
printf(“%d”, bil);

getch();
}

Pada pernyataan ini tidak akan berhenti untuk menampilkan bilangan menurun, kesalahan terjadi pada pengubah nilai pencacah, seharusnya penulisan yang benar berupa
bil –
Akan tetapi yang ditulis adalah :
bil ++

Oleh karena kondisi bil >= 1 selalu bernilai benar ( karena bil bernilai 6), maka pernyataan
printf(“%d”, bil);

akan terus dijalankan.
Jika terjadi hal semacam ini, untuk menghentikan proses yang terus menerus semacam ini denan menekan tombol CTRL – PAUSE atau CTRL – BREAK.

5.2. Pernyataan goto

Penjelasan Pernyataan goto merupakan instruksi untuk mengarahkan eksekusi program ke-pernyataan yang diawali dengan suatu label. Label merupakan suatu pengenal (identifier) yang diikuti dengan tanda titik dua ( : ). Bentuk pemakaian goto sebagai berikut :

goto label;

Contoh Penggunaan goto, dapat dilihat pada program berikut :

Contoh-7 /* —————————— */
/* Program dengan pernyataan goto */
/* —————————— */
#include
#include
#include
main()
{
int a, b;
char lagi;
atas:
clrscr();
cout>>”Masukkan Bilangan = “;
cin<<a;

b = a % 2;

printf("Nilai %d %% 2 adalah = %d",a, b);
printf("\n\nIngin Hitung Lagi [Y/T] : ");
lagi = getche() ;

if (lagi == 'Y' || lagi == 'y')
goto atas;

getch();
}

5.3. Pernyataan while

Penjelasan Pernyataan perulangan while merupakan instruksi perulangan yang mirip dengan perulangan for. Bentuk perulangan while dikendalikan oleh syarat tertentu, yaitu perulangan akan terus dilaksanakan selama syarat tersebut terpenuhi.

Bentuk umum perulangan while, sebagai berikut :

Bentuk umum perulangan while, dengan lebih dari perintah / pernyataan, sebagai berikut :

Contoh-8 /* ——————- */
/* Program while01.cpp */
/* ——————- */
#include
#include
main()
{
int bil=1;
clrscr();
while(bil<=10)
{
printf(" %d ",bil);
++bil;
}
getch();
}

Contoh-9 /* ——————- */
/* Program while02.cpp */
/* ——————- */
#include
#include
main()
{
int bil=2;
clrscr();
while(bil<=10)
{
printf(" %d ",bil);
bil+=2;
}
getch();
}

5.4. Pernyataan do – while

Penjelasan Pernyataan perulangan do – while merupakan bentuk perulangan yang melaksanakan perulangan terlebih dahulu dan pengujian perulangan dilakukan dibelakang.

Bentuk umum perulangan do – while, sebagai berikut :

Bentuk umum perulangan do – while, dengan lebih dari perintah / pernyataan, sebagai berikut :

Contoh-10 /* —————— */
/* Program do – while */
/* —————— */
#include
#include
main()
{
int bil=2;
clrscr();

do
{
printf(” %d “,bil);
bil+=2;
}
while(bil<=10);

getch();
}

5.5. Pernyataan break

Penjelasan Pernyataan break telah dibahas pada pernyataan pengambilan keputusan switch. Pernyataan break ini berfungsi untuk keluar dari struktur switch. Selain itu pernyataan break berfungsi keluar dari perulangan ( for, while dan do-while ). Jika pernyataan break dikerjakan, maka eksekusi akan dilanjutkan ke pernyataan yang terletak sesudah akhir dari badan perulangan ( loop ).

Contoh-11 /* ——————————- */
/* Program do – while dengan break */
/* ——————————- */

#include
#include
main()
{
int bil = 1;
clrscr();

do
{
if (bil >= 6)
break;
printf(” %d “,bil);
}
while(bil++);

getch();
}

Contoh-12 /* —————————– */
/* Perulangan FOR dengan break; */
/* —————————– */

#include
#include

main()
{
int a=3, b=2, c=1, bil;
clrscr();
printf(“Bil-A | Bil-B | Bil-C\n”);
printf(“————————-”);
for(bil=1; bil<=10; ++bil)
{
a+=b; b+=c; c+=2;
printf("\n%d \t| %d \t| %d",a, b, c);
if(c==13)
break;
}
getche();
}

5.6. Pernyataan continue

Penjelasan Pernyataan continue digunakan untuk mengarahkan eksekusi ke iterasi (proses) berikutnya pada loop yang sama, dengan kata lain mengembalikan proses yang sedang dilaksanakan ke-awal loop lagi, tanpa menjalankan sisa perintah dalam loop tersebut.

Contoh-13 /* —————————– */
/* Perulangan FOR dengan coninue */
/* —————————– */

#include
#include

main()
{
int bil;
clrscr();

for(bil=1; bil<=10; ++bil)
{
if(bil==6)
continue;

printf(" %d ",bil);
}
getch();
}

Fungsi

Penjelasan Fungsi (Function) merupakan blok dari kode yang dirancang untuk melaksanakan tugas khusus.
Pada intinya fungsi berguna untuk :
- Mengurangi pengulangan penulisan program yang berulangan atau sama.
- Program menjadi terstruktur, sehingga mudah dipahami dan dikembangkan.

Fungsi-fungsi yang sudah kita kenal sebelumnya adalah fungsi main(), yang bersifat mutlak, karena fungsi ini program akan dimulai, sebagai contoh yang lainnya fungsi printf() yang mempunyai tugas untuk menampilkan informasi atau data kelayar dan masih banyak lainnya.

6.1. Struktur Fungsi

Penjelasan Sebuah fungsi sederhana mempunyai bentuk penulisan sebagai berikut :

nama_fungsi(argumen)
{
… pernyataan / perintah;
… pernyataan / perintah;
… pernyataan / perintah;
}

Keterangan:

- Nama fungsi, boleh dituliskan secara bebas dengan ketentuan, tidak menggunakan spasi dan nama-nama fungsi yang mempunyai arti sendiri.
- Argumen, diletakan diantara tanda kurung “( )” yang terletak dibelakang nama fungsi. Argumen boleh diisi dengan suatu data atau dibiarkan kosong.
- Pernyataan / perintah, diletakan diantara tanda kurung ‘{ }’.

Pada pemanggilan sebuah fungsi, cukup dengan menuliskan nama fungsinya.

Contoh pembuatan fungsi sederhana

Contoh-1 /* pembuatan fungsi garis() */

garis()
{
printf("\n———————-\n");
}

/* program utama */
main()
{
clrscr();
garis();
cout<<"AMIK BSI – Pondok Labu"<<endl;;
garis();
getche();
}

6.2. Prototipe Fungsi

Penjelasan Prototipe fungsi digunakan untuk menjelaskan kepada kompiler mengenai :
• Tipe keluaran fungsi.
• Jumlah parameter.
• Tipe dari masing-masing parameter.

Salah satu keuntungan pemakai prototipe, kompiler akan melakukan konversi antara tipe parameter dalam definisi dan parameter saat pemanggilan fungsi tidak sama atau akan menunjukkan kesalahan jika jumlah parameter dalam definisi dan saat pemanggilan berbeda.

Contoh prototipe fungsi :

Nama-fungsi

float total ( float a, float b); di-akhiri titik koma

Tipe parameter kedua
Tipe parameter pertama
Tipe keluaran fungsi

Jika dalam penggunaan fungsi yang dideklarasikan dengan menggunakan prototipe, maka bentuk definisi harus diubah. Sebagai contoh pada pendefinisian berikut :

float total(a, b)
float a, y;

Bentuk pendefinisian diatas harus diubah menjadi bentuk modern pendefinisian fungsi :

Nama fungsi

float total(float a, float b) Tidak menggunakan titik koma

parameter b
Tipe parameter b
parameter a
Tipe parameter a
Tipe keluaran fungsi

6.3. Parameter Fungsi

Penjelasan Terdapat dua macam para parameter fungsi, yaitu :
• Parameter formal adalah variabel yang ada pada daftar parameter dalam definisi fungsi.
• Parameter Aktual adalah variabel yang dipakai dalam pemanggilan fungsi.
Bentuk penulisan Parameter Formal dan Parameter Aktual.

Ada dua cara untuk melewatkan parameter ke dalam fungsi, yaitu berupa :

6.3.1. Pemanggilan dengan nilai ( Call by Value )

Penjelasan Pemanggilan dengan nilai merupakan cara yang dipakai untuk seluruh fungsi buatan yang telah dibahas didepan. Pada pemanggilan dengan nilai, nilai dari parameter aktual akan ditulis keparameter formal. Dengan cara ini nilai parameter aktual tidak bisa berubah, walaupun nilai parameter formal berubah.

Contoh-2 /* ———————— */
/* Penggunaan Call By Value */
/* Program Pertukaran Nilai */
/* ———————— */

#include
#include
#include

tukar(int x, int y);

main()
{
int a, b;

a = 88;
b = 77;

clrscr();

cout<<"Nilai Sebelum Pemanggilan Fungsi";
cout<<"\na = "<<a<<" b = "<<b;

tukar(a,b);

cout<<"\nNilai Setelah Pemanggilan Fungsi";
cout<<"\na = "<<a<<" b = "<<b;

getch();
}

tukar(int x, int y)
{
int z;

z = x;
x = y;
y = z;

cout<<"\n\nNilai di dalam Fungsi Tukar()";
cout<<"\nx = "<<x<<" y = "<<y;
cout<<endl;
}

6.3.2. Pemanggilan dengan Referensi (Call by Reference)

Penjelasan Pemanggilan dengan reference merupakan upaya untuk melewatkan alamat dari suatu variabel kedalam fungsi. Cara ini dapat dipakai untuk mengubah isi suatu variabel diluar fungsi dengan melaksanakan pengubahan dilakukan didalam fungsi.

Contoh-3 /* —————————- */
/* Penggunaan Call By Reference */
/* Program Pertukaran Nilai */
/* —————————- */

#include
#include
#include

tukar(int *x, int *y);

main()
{
int a, b;
a = 88;
b = 77;

clrscr();

cout<<"Nilai Sebelum Pemanggilan Fungsi";
cout<<"\na = "<<a<<" b = "<<b;

tukar(&a,&b);

cout<<endl;
cout<<"\nNilai Setelah Pemanggilan Fungsi";
cout<<"\na = "<<a<<" b = "<<b;

getch();
}

tukar(int *x, int *y)
{
int z;

z = *x;
*x = *y;
*y = z;

cout<<endl;
cout<<"\nNilai di Akhir Fungsi Tukar()";
cout<<"\nx = "<<*x<<" y = "<<*y;
}

Pengiriman Data Ke Fungsi

6.5.1. Pengiriman Data Konstanta Ke Fungsi.

Penjelasan Mengirimkan suatu nilai data konstanta ke suatu fungsi yang lain dapat dilakukan dengan cara yang mudah, dapat dilihat dari program berikut :

Contoh-5 /* ———————— */
/* Pengriman data Konstanta */
/* ———————— */
#include
#include
#include

luas(float sisi);

main()
{
float luas_bs;

clrscr();

luas_bs = luas(4.25);
cout<<"\nLuas Bujur Sangkar = "<<luas_bs;
getch();
}

luas(float sisi)
{
return(sisi*sisi);
}
Keterangan :

Dalam struktur program diatas dilihat bahwa, pernyataan luas_bs(4.25), akan dikirimkan kepada fungsi luas(), untuk diolah lebih lanjut, yang nilai tersebut akan ditampung pada variabel sisi.

6.5.2. Pengiriman Data Variabel Ke Fungsi

Penjelasan Bentuk pengiriman data Variabel, sama seperti halnya pengiriman suatu nilai data konstanta ke suatu fungsi, hanya saja nilai yang dikirimkan tersebut senantiasa dapat berubah-ubah. Bentuk pengiriman tersebut dapat dilihat dari program berikut :

Contoh-6 /* ———————— */
/* Pengriman data Konstanta */
/* ———————— */

#include
#include
#include

luas(float sisi);

main()
{
float luas_bs, sisi_bs;

clrscr();

cout<<"\nMenghitung Luas Bujur Sangkar"<<endl;

cout<>sisi_bs;

luas_bs = luas(sisi_bs);

cout<<"\nLuas Bujur Sangkar = "<<luas_bs<<" Cm";

getch();
}

luas(float sisi)
{
return(sisi*sisi);
}

Bab 7 : Array

Penjelasan Variabel Larik atau lebih dikenal dengan ARRAY adalah adalah Tipe terstruktur yang terdiri dari sejumlah komponen-komponen yang mempunyai tipe yang sama. Suatu Array mempunyai jumlah komponen yang banyaknya tetap. Banyaknya komponen dalam suatu larik ditunjukan oleh suatu indek untuk membedakan variabel yang satu dengan variabel yang lainnya.
Variabel array dalam Borland C++, dapat digolongkan menjadi tiga buah dimensi :
• Array Berdimensi Satu.
• Array Berdimensi Dua
• Array Berdimensi Tiga.

Pembahasan ini, hanya dibatasi pada Array Berdimensi Dua saja :

7.1. Array Berdimensi Satu

Penjelasan Sebelum digunakan, variabel array perlu dideklarasikan terlebih dahulu. Cara mendeklarasikan variabel array sama seperti deklarasi variabel yang lainnya, hanya saja diikuti oleh suatu indek yang menunjukan jumlah maksimum data yang disediakan.

Deklarasi Array Bentuk Umum pendeklarasian array :

Keterangan :
• Type Data : Untuk menyatakan type data yang digunakan.
• Ukuran : Untuk menyatakan jumlah maksimum elemen array.

Contoh Pendeklarasian Array

float Nil_Akhir[6];

Jumlah Elemen Array

Nama Array

Tipe data elemen array
Suatu array dapat digambarkan sebagai kotak panjang yang berisi kotak-kotak kecil didalam kotak panjang tersebut.

Elemen Array

0 1 2 3 4 5 Subscript / Index

ARRAY NIL_AKHIR

Subscript atau Index array pada Borland C++, selalu dimulai dari Nol ( 0 )

Mengakses Suatu array, dapat diakses dengan menggunakan subscript atau index nya:
Elemen Bentuk umum pengaksesan dengan bentuk :

Contoh Nil_Akhir[3];
Nil_Akhir[1];
Nil_Akhir[0];

Contoh-1 /* —————————- */
/* Program Array Satu Dimensi */
/* —————————- */
#include
#include
#include
#include

main()
{
int i;
char nama[5][20];
float nilai1[5];
float nilai2[5];
float hasil[5];

clrscr();
for(i=1;i<=2;i++)
{
cout<<"Data Ke – "<<i<<endl;
cout<<"Nama Siswa : "; gets(nama[i]);
cout<>nilai1[i];
cout<>nilai2[i];
hasil[i] = (nilai1[i] * 0.40)+ (nilai2[i] * 0.60);
cout<<endl;
}

cout<<"——————————————";
cout<<"——-"<<endl;
cout<<"No. Nama Siswa Nilai Nilai ";
cout<<"Hasil"<<endl;
cout<<" Mid Tes FInal ";
cout<<"Ujian"<<endl;
cout<<"——————————————";
cout<<"——-"<<endl;

for(i=1;i<=2;i++)
{
cout<<setiosflags(ios::left)<<setw(4)<<i;
cout<<setiosflags(ios::left)<<setw(20)<<nama[i];
cout<<setprecision(2)<<" "<<nilai1[i];
cout<<setprecision(2)<<" "<<nilai2[i];
cout<<setprecision(2)<<" "<<hasil[i]<<endl;
}

cout<<"——————————————";
cout<<"——-"<<endl;
getch();
}

Inisialisasi Inisialisasi adalah memberikan nilai awal terhadap suatu variabel. Bentuk
Array pendefinisian suatu array dapat dilihat dari contoh berikut :

Tipe_data nama_array[jml_elemen] = { nilai array };

Contoh float nilai[5] = {56.5, 66.7, 87.45, 98,5, 78.9 };

Contoh-2 /* —————————– */
/* Inisialisasi Array Dimensi 1 */
/* —————————– */

#include
#include
#include

void main()
{
float nilai[5] = {56.4, 67.6, 57.7, 76.3, 72.5};
int i;

clrscr();

for(i=0; i<5; i++)
{
cout<<"Nilai Array Index ke – "<<i<<" = ";
cout<<setprecision(1)<<nilai[i]<<endl;
}

getch();
}

7.2. Array Berdimensi Dua

Penjelasan Array dimensi dua tersusun dalam bentuk baris dan kolom, dimana indeks pertama menunjukan baris dan indeks kedua menunjukan kolom. Array dimensi dua dapat digunakan seperti pendatan penjualan, pendataan nilai dan lain sebagainya.

Deklarasi Array Bentuk Umum pendeklarasian array :

Keterangan :
• Type Data : Untuk menyatakan type data yang digunakan.
• Index-1 : Untuk menyatakan jumlah baris
• Index-2 : Untuk menyatakan jumlah kolom

Contoh Pendeklarasian Array

Sebagai contoh pendeklarasian yang akan kita gunakan adalah pengolahan data penjualan, berikut dapat anda lihat pada tabel berikut :

Data Penjualan Pertahun
Jenis Barang Tahun Penjualan
2001 2002 2003
Printer 150 159 230
Monitor 100 125 150
Keyboard 210 125 156

Tabel 7.1. Tabel Data Penjualan Pertahun

Jika anda lihat dari tabel 7.1 diatas maka dapat dituliskan kedalam array dimensi dua berikut :

int data_jual[3][3];

Jumlah Kolom
Jumlah Baris
Nama Array
Tipe data elemen array

Mengakses Suatu array, dapat diakses dengan menggunakan subscript atau index nya:
Elemen Bentuk umum pengaksesan dengan bentuk :

Contoh data_jual[2][2];
data_jual[1][2];
Contoh-3 /* —————- */
/* Array Dimensi 2 */
/* —————- */
#include
#include
#include
#include

main()
{
int i, j;
int data_jual[4][4];

clrscr();

for(i=1;i<=3;i++)
{
for(j=1;j<=3;j++)
{
cout<<"Data Ke – "<<i<<" "<<j<<endl;
cout<>data_jual[i][j];
}
}

cout<<"Data Penjualan Pertahun"<<endl;
cout<<"———————–"<<endl;
cout<<"NO 2001 2002 2003"<<endl;
cout<<"———————–"<<endl;

for(i=1;i<=3;i++)
{
cout<<setiosflags(ios::left)<<setw(5)<<i;
for(j=1;j<=3;j++)
{
cout<<setiosflags(ios::right)<<setw(4);
cout<<data_jual[i][j];
cout<<" ";
}
cout<<endl;
}

cout<<"———————–"<<endl;

getch();
}

Inisialisasi Inisialisasi adalah memberikan nilai awal terhadap suatu variabel. Bentuk
Array pendefinisian suatu array dapat dilihat dari contoh berikut :

Tipe_data nama_array[jml_elemen] = { nilai array };

Contoh float data[2][5] = { {2, 3, 4, 5, 2},
{4, 2, 6, 2, 7},
};

Contoh-3 /* —————- */
/* Array Dimensi 2 */
/* Copyright 1995 */
/* Abdul Kadir */
/* —————- */

#include
#include
#include

void main()
{
int i, j;
int huruf[8][8] =
{
{1,1,1,1,1,1,0,0},
{1,1,0,0,0,1,0,0},
{1,1,0,0,0,1,0,0},
{1,1,1,1,1,1,1,0},
{1,1,0,0,0,0,1,0},
{1,1,0,0,0,0,1,0},
{1,1,0,0,0,0,1,0},
{1,1,1,1,1,1,1,0},
};

clrscr();

for(i=0;i<8;i++)
{
for(j=0;j<8;j++)
if (huruf[i][j] == 1)
cout<<'\xDB';
else
cout<<'\x20';

cout<<endl;
}

getch();
}

Macro

Penjelasan Didalam penyusunan suatu makro ada beberapa hal yang perlu dipelajari adalah :

9.1. Preprocessor Directives

Penjelasan Adalah instruksi yang diberikan kepada kompiler, sesaat sebelum proses kompilasi berlangsung. Didalam penggunaan preprocessor directive selalu dimulai dengan tanda : #
Ada beberapa preprocessor directive, diantaranya adalah :

9.1.1. # define

Penjelasan Digunakan untuk mendefinisikan suatu nilai tertentu kepada suatu nama konstanta. Bentuk umum dari preprocessor directive #define ini adalah :

#define nama_konstanta teks

Contoh :
Teks

#define A 6

Nama_Konstanta

Dalam pendeklarasian preprocessor directive #define, Nama_Konstanta sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf besar, guna untuk membedakannya dengan nama_variabel. Sedangkan Teks merupakan suatu nilai yang diberikan pada nama_konstanta. Teks dapat berupa :
• Numerik  #define PI 3.14
• Karakter  #define HURUF ‘B’
• String  #define JABATAN “Direktur”
• Pernyataan  #define CETAK (“Turbo C”)
• Fungsi Sederhana  #define LUAS_KUBUS (n*n)

Setelah #define ditentukan didalam program cukup dituliskan nama_konstantanya saja. # define akan mengganti semua nama konstanta tadi dengan teksnya sebelum proses kompilasi dimulai.

Contoh-1 /* ————————– */
/* Program Penggunaan #define */
/* Nama File : define01.cpp */
/* ————————– */
#include
#include
#include

#define PI 3.141592
#define L(n) PI*n*n

main()
{
clrscr();
cout<<"Luas Lingkaran dengan : "<<endl;
cout<<"Jari-jari = 5 adalah "<<L(5)<<endl;
cout<<"Jari-jari = 10 adalah "<<L(10)<<endl;
getche();
}

Contoh-2 /* ————————– */
/* Program Penggunaan #define */
/* Nama File : define02.cpp */
/* ————————– */
#include
#include
#include

#define awal {
#define akhir }
#define mulai() main()
#define cetak cout
#define masuk cin
#define hapus() clrscr()
#define tahan() getch()
#define LS_KUBUS (sisi*sisi)

mulai()
awal
int sisi, ls_kubus;

hapus();

cetak<<"Program Penggunaan #define"<<endl;
cetak<>sisi;

ls_kubus = LS_KUBUS;

cetak<<"Luas Kubus adalah : "<<ls_kubus;
tahan();
akhir
9.1.2. # include

Preprocessor #include telah dibahas pada bab sebelumnya, yaitu berfungsi untuk memasukkan atau menyertakan file-file header kedalam program yang akan dibuat. Dalam penulisan #include ada dua bentuk penulisan :

#include “nama_file_header”
atau
#include

Pada bentuk penulisan #include mempunyai arti yang berbeda, yaitu :

• #include “nama_file_header”

“Pertama kali compiler akan mencari file header yang disebutkan pada directory yang sedang aktif dan apa bila tidak ditemukan akan mencari pada directory dimana file header tersebut berada “.

• #include

“Pertama kali compiler akan mencari file header yang disebutkan pada directory yang ada file headernya, kecuali pada directory yang sedang aktif.

9.2. Pembuatan File Header

Penjelasan File Header adalah suatu file dengan akhiran .h . File ini sebenarnya berisikan deklarasi fungsi dan definisi konstanta. Selain file-file header standar yang disediakan oleh Turbo C, kita dapat juga membuat file header sediri, dengan cara yang sama seperti membuat file editor. Yang harus diperhatikan pada saat menyimpan file header yang telah dibuat harus digunakan akhiran .h .
Berikut contoh file header standar yang disediakan oleh Borland C++.

/* types.h

Types for dealing with time.

Copyright (c) Borland International 1987,1988
All Rights Reserved.
*/

#ifndef __TIME_T
#define __TIME_T
typedef long time_t;
#endif

Berikut kita akan membuat suatu file header sendiri yang akan digunakan pada file editor.
Buatlah program file heder dibawah ini, kemudian simpan dengan nama : atur.h

Contoh-3 /* atur.h

contoh pembuatan file header untuk pengaturan.

Copyright (c) Virusland Corp 2001
All Rights Reserved.
*/

#define awal {
#define akhir }
#define mulai() main()
#define cetak cout
#define tampil cprintf
#define masuk scanf
#define hapus() clrscr()
#define jika if
#define warna textcolor

Buatlah program dibawah ini, kemudian gunakan file header yang sudah anda buat dan simpan dengan nama : sendiri.cpp

Contoh-4 /* ———————————- */
/* program dengan file header sendiri */
/* ———————————- */

#include
#include
#include
#include”atur.h”

mulai()
awal
int a, b, c;
hapus();
warna(4);
tampil(“\nPROGRAM PENJUMLAHAN\n”);
cout<<endl;
cout<<"Masukkan Nilai A = "<>a;
cout<<"Masukkan Nilai B = "<>b;
c=a+b;

cout<<"Hasil dari "<<a<<" + "<<b<<" = "<<c;

tahan();
akhir

Bab 10 : Structure

Penjelasan Structure digunakan untuk mengelompokan sejumlah data yang mempunyai tipe data yang berbeda. Variabel-variabel yang membentuk sebuah struktur dinamakan elemen struktur. Struktur sama seperti Record di dalam Bahasa Pemrograman Pascal

10.1. Deklarasi Structure

Penjelasan Structure dapat deklarasikan seperti berikut

atau

Contoh struct
Deklarasi {
char nim[5];
char nama[15];
float nilai;
} mahasiswa;

Contoh-1 /* —————————- */
/* Program Penggunaan structure */
/* Nama File : struct1.cpp */
/* —————————- */

#include
#include
#include

main()
{
struct
{
char nim[5];
char nama[15];
float nilai;
} mahasiswa;

clrscr();
cout<>mahasiswa.nim;
cout<>mahasiswa.nama;
cout<>mahasiswa.nilai;

clrscr();

cout<<"NIM = "<<mahasiswa.nim<<endl;
cout<<"Nama = "<<mahasiswa.nama<<endl;
cout<<"Nilai Akhir = "<<mahasiswa.nilai<<endl;

getch();
}

10.2. Nested Structure

Penjelasan Nested Structure merupakan suatu Structure dapat digunakan didalam structure yang lainnya. Hal seperti ini anda dapat lihat pada program berikut ini :

Contoh-2 /* ———————————– */
/* Program Penggunaan Nested structure */
/* Nama File : struct2.cpp */
/* ———————————– */

#include
#include
#include

main()
{
struct dtmhs
{
char nim[5];
char nama[15];
};

struct dtnil
{
float nil1;
float nil2;
};

struct
{
struct dtmhs mhs;
struct dtnil nil;
} nilai;

clrscr();

//-> masukan data
cout<>nilai.mhs.nim;
cout<>nilai.mhs.nama;
cout<>nilai.nil.nil1;
cout<>nilai.nil.nil2;
cout< menampilkan hasil masukan
cout<<"masukan NIM = "<<nilai.mhs.nim<<endl;
cout<<"masukan Nama = "<<nilai.mhs.nama<<endl;
cout<<"masukan Nilai UTS = "<<nilai.nil.nil1<<endl;
cout<<"masukan Nilai UAS = "<<nilai.nil.nil2<<endl;
cout<<endl;

getch();
return(0);
}

10.3. Structure dengan Array

Penjelasan Penggunaan Array sering dikaitkan dengan Structure, sehingga membentuk Array dari Structure. Berikut bentuk deklarasi array structure :

Contoh-3 /* ———————————- */
/* Program Penggunaan array structure */
/* Nama File : struct3.cpp */
/* ———————————- */

#include
#include
#include
main()
{
int i, j=1;
struct
{
char nim[5];
char nama[15];
float nilai;
} mhs[5];

clrscr();
for(i=0; i<2; i++)
{
cout<>mhs[i].nim;
cout<>mhs[i].nama;
cout<>mhs[i].nilai;
}

for(i=0; i<2; i++)
{
cout<<"Data Ke – "<<j++<<endl;
cout<<"NIM = "<<mhs[i].nim<<endl;
cout<<"Nama = "<<mhs[i].nama<<endl;
cout<<"Nilai Akhir = "<<mhs[i].nilai<<endl;
cout<<endl;
}

getch();
}

10.4. Structure dengan Function

Penjelasan Suatu elemen-elemen dari suatu Structure dapat dikirimkan ke dalam suatu function dengan cara yang sama seperti mengirimkan suatu variabel sederhana kedalam suatu function.
Berikut contoh sederhana yang anda dapat lihat pada contoh program berikut :

Contoh-4 /* —————————————— */
/* Program Penggunaan structure pada function */
/* Nama File : struct4.cpp */
/* —————————————— */

#include
#include
#include

char* ket(float n);

main()
{
int i, j=1, k=1;
struct
{
char nim[5];
char nama[15];
float nilai;
} mhs[5];

clrscr();
for(i=0; i<2; i++)
{
cout<<"Data Ke – "<<j++<<endl;
cout<>mhs[i].nim;
cout<>mhs[i].nama;
cout<>mhs[i].nilai;
cout<<endl;
}

clrscr();
for(i=0; i<2; i++)
{
cout<<"Data Ke – "<<k++<<endl;
cout<<"NIM = "<<mhs[i].nim<<endl;
cout<<"Nama = "<<mhs[i].nama<<endl;
cout<<"Nilai Akhir = "<<mhs[i].nilai<<endl;
cout<<"Keterangan yang didapat = ";
cout<<ket(mhs[i].nilai)<<endl;
cout< 65)
return ‘Lulus’;
else
return ‘Gagal’;
}

Contoh kasus:
Buatlah sebuah program menentukan bilangan terbesar dari 3 buah bilangan.
Program:
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
//—————————————————————————
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
{
int a,b,c;
printf(“Masukkan bilangan A = “);scanf(“%d”,&a);
printf(“Masukkan bilangan B = “);scanf(“%d”,&b);
printf(“Masukkan bilangan C = “);scanf(“%d”,&c);
if(a>=b&&a>=c)
{
printf(“Bilangan %d terbesar”,a);
}
else if(b>=a&&b>=c)
{
printf(“Bilangan %d terbesar”,b);
}
else
{
printf(“Bilangan %d terbesar”,c);
}
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

Contoh kasus:
Menentukkan nama hari berdasarkan kode hari.
Program:
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
//—————————————————————————
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
int hari;
printf(“Menentukan nama hari dalam seminggu \n”);
printf(“1. Ahad 2. Senin 3. Selasa 4. Rabu “);
printf(“5. Kamis 6. Jum’at 7. Sabtu \n”);
printf(“Kode hari = “);scanf(“%d”,&hari);
switch(hari)
{
case 1: printf(“Hari Ahad”);
break;
case 2: printf(“Hari Senin”);
break;
case 3: printf(“Hari Selasa”);
break;
case 4: printf(“Hari Rabu”);
break;
case 5: printf(“Hari Kamis”);
break;
case 6: printf(“Hari Jum’at”);
break;
case 7: printf(“Hari Sabtu”);
break;
default: printf(“Kode hari SALAH!”);
}
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

Contoh Kasus: Menampilkan deret dari 0 – 20.
Program:
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
//—————————————————————————
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
int i;
i=0;
while(i<=20)
{
printf("%d ");
i++;
}
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

Contoh Kasus: Menampilkan deret menurun dari 20 sampai 0.
Program:
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
{
int i;
i=0;
do
{
printf(“%d “);
i++;
}
while(i<=20);
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

Contoh Kasus: Menampilkan deret bilangan 1 – 100 yang habis dibagi dengan 2 dan
habis dibagi dengan 3.
Program:
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
//—————————————————————————
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
{
int i;
for(i=1;i<=100;i++)
{
if(i%2==0&&i%3==0)
{
printf("%d ",i);
}
}
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————
LATIHAN
1. Buatlah Program untuk mencetak tampilan sebagai berikut :
**********
*********
********
*******
******
*****
****
***
**
*
Gunakan perulangan while atau for..!
2. Buatlah Program untuk mencetak 10 bilangan prima pertama.
2 3 5 7 13 17….

D E K L A R A S I P O I N T ER

Seperti halnya variabel yang lain, variabel pointer juga harus dideklarasikan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Bentuk Umum : Tipe_data *nama_pointer;
Tipe data pointer mendefinisikan tipe dari obyek yang ditunjuk oleh pointer. Secara teknis, tipe apapun dari pointer dapat menunjukkan lokasi (dimanapun) dalam memori. Bahkan operasi pointer dapat dilaksanakan relatif terhadap tipe dasar apapun yang ditunjuk. Contoh, ketika kita
mendeklarasikan pointer dengan tipe int*, kompiler akan menganggap alamat yang ditunjuk menyimpan nilai integer – walaupun sebenarnya bukan (sebuah pointer int* selalu menganggap bahwa ia menunjuk ke sebuah obyek bertipe integer, tidak peduli isi sebenarnya). Karenanya,
sebelum mendeklarasikan sebuah pointer, pastikan tipenya sesuai dengan tipe obyek yang akan ditunjuk.
Contoh :
int *px;
char *sh;

Contoh Program :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
int x, y; /* x dan y bertipe int */
int *px; /* px pointer yang menunjuk objek */
clrscr();
x = 87;
px = &x; /* px berisi alamat dari x */
y = *px; /* y berisi nilai yang ditunjuk px */
printf(“Alamat x = %p\n”, &x);
printf(“Isi px = %p\n”, px);
printf(“Isi x = %i\n”, x);
printf(“Nilai yang ditunjuk oleh px = %i\n”, *px);
printf(“Nilai y = %i\n”, y);
getch();
}
O P E R A S I P O I N T ER
Operasi Penugasan
Suatu variable pointer seperti halnya variable yang lain, juga bisa mengalami operasi penugasan. Nilai dari suatu variable pointer dapat disalin ke variable pointer yang lain.

Contoh Program :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
float *x1, *x2, y;
clrscr();
y = 13.45;
x1 = &y; /* Alamat dari y disalin ke variabel x1 */
x2 = x1; /* Isi variabel x1 disalin ke variabel x2 */
printf(“Nilai variabel y = %.2f ada di alamat %p\n”, y, x1);
printf(“Nilai variabel y = %.2f ada di alamat %p\n”, y, x2);
getch();
}

Operasi Aritmatika
Suatu variabel pointer hanya dapat dilakukan operasi aritmatika dengan nilai integer saja. Operasi yang biasa dilakukan adalah operasi penambahan dan pengurangan. Operasi penambahan dengan suatu nilai menunjukkan lokasi data berikutnya (index selanjutnya) dalam memori. Begitu juga
operasi pengurangan.

Contoh Program :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
int nilai[3], *penunjuk;
clrscr();
nilai[0] = 125;
nilai[1] = 345;
nilai[2] = 750;
penunjuk = &nilai[0];
printf(“Nilai %i ada di alamat memori %p\n”, *penunjuk, penunjuk);
printf(“Nilai %i ada di alamat memori %p\n”, *(penunjuk+1),
penunjuk+1);
printf(“Nilai %i ada di alamat memori %p\n”, *(penunjuk+2),
penunjuk+2);
getch();
}

Operasi Logika
Suatu pointer juga dapat dikenai operasi logika.

Contoh Program :
#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
int a = 100, b = 200, *pa, *pb;
clrscr();
pa = &a;
pb = &b;
if(pa pb)
printf(“pa menunjuk ke memori lebih tinggi dari pb\n”);
getch();
}
P O I N T E R D A N S T R I NG

Contoh Program 1 :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
char *nama1 = “SPIDERMAN”;
char *nama2 = “GATOTKACA”;
int main()
{
char namax;
clrscr();
puts(“SEMULA :”);
printf(“Saya suka >> %s\n”, nama1);
printf(“Tapi saya juga suka >> %s\n”, nama2);
/* Penukaran string yang ditunjuk oleh pointer nama1 dan nama2 */
printf(“SEKARANG :”);
printf(“Saya suka >> %s\n”, nama1);
printf(“Dan saya juga masih suka >> %s\n”, nama2);
getch();
}
Contoh Program 2 :
#include
void misteri1(char *);
int main()
{
char string[] = “characters”;
printf(“String sebelum proses adalah %s”, string);
misteri1(string);
printf(“String setelah proses adalah %s”, string);
}
void misteri1(char *s)
{
while ( *s != ” )
{
if ( *s >= ‘a’ && *s <= 'z' )
*s -= 32;
++s;
}
}
P O I N T E R M E N U N J U K S U A T U A R R AY

Contoh Program :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
static int tgl_lahir[] = { 13,9,1982 };
int *ptgl;
ptgl = tgl_lahir; /* ptgl berisi alamat array */
printf(“Diakses dengan pointer”);
printf(“Tanggal = %i\n”, *ptgl);
printf(“Bulan = %i\n”, *(ptgl + 1));
printf(“Tahun = %i\n”, *(ptgl + 2));
printf(“\nDiakses dengan array biasa\n”);
printf(“Tanggal = %i\n”, tgl_lahir[0]);
printf(“Bulan = %i\n”, tgl_lahir[1]);
printf(“Tahun = %i\n”, tgl_lahir[2]);
getch();
}

M E M B E R I N I L A I A R R A Y D E N G A N P O I N T ER

Contoh Program :

#include “stdio.h”
#include “conio.h”
int main()
{
int x[5], *p, k;
clrscr();
p = x;
x[0] = 5; /* x[0] diisi dengan 5 sehingga x[0] = 5 */
x[1] = x[0]; /* x[1] diisi dengan x[0] sehingga x[1] = 5 */
x[2] = *p + 2; /* x[2] diisi dengan x[0] + 2 sehingga x[2] = 7 */
x[3] = *(p+1) – 3; /* x[3] diisi dengan x[1] – 3 sehingga x[3] = 2 */
x[4] = *(x + 2); /* x[4] diisi dengan x[2] sehingga x[4] = 7 */
for(k=0; k<5; k++)
printf(“x[%i] = %i\n”, k, x[k]);
getch();
}
P O I N T E R D A N R E C O RD

Latihan6.cpp
//—————————————————————————
#include
#pragma hdrstop
#include
#include
#include
struct biodata
{
char nim[11];
char nama[25];
struct
{
char jalan[20];
char kota[15];
char kodepos[5];
} alamat;
struct
{
int tanggal;
int bulan;
int tahun;
} lahir;
};
//—————————————————————————
#pragma argsused
int main(int argc, char* argv[])
{
struct biodata *mahasiswa;
/* Input Biodata Mahasiswa*/
printf(“NIM : “);scanf(“%s”,mahasiswa->nim);
printf(“Nama Mahasiswa : “);scanf(“%s”,mahasiswa->nama);
printf(“\n”);
printf(“Alamat\n”);
printf(“Jalan : “);scanf(“%s”,mahasiswa->alamat.jalan);
printf(“Kota : “);scanf(“%s”,mahasiswa->alamat.kota);
printf(“Kode Pos : “);scanf(“%s”,mahasiswa->alamat.kodepos);
printf(“\n”);
printf(“Lahir\n”);
printf(“Tanggal(xx) : “);scanf(“%i”,&mahasiswa->lahir.tanggal);
printf(“Bulan(xx) : “);scanf(“%i”,&mahasiswa->lahir.bulan);
printf(“Tahun(xxxx) : “);scanf(“%i”,&mahasiswa->lahir.tahun);
printf(“\n\n”);
/* Output Biodata Mahasiswa*/
printf(“NIM : %s\n”,mahasiswa->nim);
printf(“Nama : %s\n”,mahasiswa->nama);
printf(“Alamat : Jl. %s %s %s\n”,mahasiswa->alamat.jalan,
mahasiswa->alamat.kota,
mahasiswa->alamat.kodepos);
printf(“Tanggal Lahir : %i – %i – %i \n”,mahasiswa->lahir.tanggal,
mahasiswa->lahir.bulan,mahasiswa->lahir.tahun);
getch();
return 0;
}
//—————————————————————————

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.